Minggu, 04 Maret 2018

Jilbab bukan Ketentuan Agama

Spoiler for terjemahan bahasa Indonesia

Jakarta (WWK) - Akhirnya al Azhar menjelaskan posisinya dan mengumumkan bahwa hijab tidak ada hubungannya dengan agama.

Al Azhar mensahkan tesis PhD dari Sheikh Mustafa Mohamed Rashid tentang Syariah dan Hukum yang ia peroleh dengan gelar sangat terpuji, cum Laude, di mana Rashid menyatakan bahwa hijab bukanlah suatu kewajiban dalam Islam (fardhu), dan bahwa interpretasi (tafsir) dan keadaan di mana ayat-ayat tersebut muncul telah menyebabkan kesalahpahaman yang tersebar luas mengenai apa yang disebut 'hijab islami' sebagai penutup kepala, yang sama sekali tidak ada disebutkan dalam al Quran.

Sebagian dari umat Islam telah salah mengartikan tujuan dan penafsiran yang tepat dari Syariah, menolak logika dan urutan kejadiannya, meninggalkan metode yang layak dalam mengutip dan menafsirkan ayat-ayat, serta mengabaikan latar belakang sejarah dan alasan turunnya ayat (azbab an nuzul). 

Mereka melakukannya baik disengaja, maupun dengan niat yang baik tetapi dengan tidak disertai analisis yang cerdas.

Isu hijab telah mempengaruhi secara psikologis baik orang Islam sendiri dan juga non-muslim dan dengan demikian menjadi faktor yang menentukan, makna dan sifat dari keyakinan Islam kepada non-muslim, yang menyebabkan beberapa negara non-muslim menganggapnya sebagai pernyataan politik yang memecah belah. Sebagai konsekuensi dari gesekan yang ditimbulkan, beberapa siswa perempuan telah dikeluarakan dari universitas dan pekerjaan mereka, hanya karena ketaatan mereka kepada keyakinan yang salah, yaitu meyakini sesuatu sebagai keharusan dalam Islam, yang sejatinya tidak diharuskan.

Pihak yang tidak konsisten dan tersesat memiliki bukti-bukti pendukung teori hijab (yang kadang-kadang mengambil bentuk khimar atau jilbab), yang menjauhkan mereka dari yang dimaksud dengan penutup kepala, dan ini mengindikasikan ketertutupan pikiran mereka.

'xHijab' itu disebutkan dalam surat Al Ahzab ayat 53, yang berarti 'dinding' atau 'sesuatu yang mencegah pandangan' yang berkaitan dengan "ummahat al mu'minin" (isteri-isteri Nabi) dimana "hijab" harus ditempatkan di antara mereka dan setiap pria.

Adapun Surat An Nuur ayat 31 berkenaan dengan "khimar", yang juga merupakan klaim berlebihan, yang dimaksud di sini sebenarnya adalah "penutup dada dan leher" (latar belakangnya adalah menutupi dada dimana jika diperlihatkan adalah tidak Islami) dan bukan apa yang sekarang dipahami sebagai jilbab untuk kepala.

Dan dalam hal latar belakang sejarah dari Surat Al Ahzab ayat 59 adalah untuk membedakan antara wanita yang terhormat dengan pelacur dan budak.

Terakhir, dalam penyalahgunaan hadis tentang Asma', putri Abu Bakar, yang disebutkan berjalan masuk saat Nabi Muhammad SAW sedang ada pertemuan, dan ia memerintahkan dia untuk tidak memperlihatkan selain wajah dan telapak tangannya - hadits ini bukan hadis yang mengikat karena merupakan salah satu dari hadis ahad dan bukan salah satu dari yang konsisten atau terhubung.

Bacaan lain, dari majalah Rosa El Youssef:
Spoiler for Rosa El Yous

*******

Finally al Azhar clarifies its position and announces that hijab has nothing to do with religion

al Azhar's endorsed Sheikh Mustafa Mohamed Rashid's PhD thesis on Sharia and Law for which he obtained a grade of excellent, where he stated that hijab is not an Islamic requirement (fard), and that the interpretation (tafseer) of the verses (ayat) and the circumstances during which they appeared has led to the widespread misunderstanding about the so-called 'Islamic Hijab' denoting covering the head, of which there is absolutely no mention in the Quran.

Yet some have misconstrued the intent and correct interpretation of the Sharia, refusing the logic and sequence of its appearance, abandoning the proper methods of citing and interpreting of the verses (ayat), their historical background and reason for them. They have done so either intentionally, or with good intention but with lack of the essential analytical savvy.

This hijab issue imposed itself on the Islamic and non-Islamic psyche, and thus becoming the defining factor, meaning, and nature of the Islamic faith to non-Muslims, which led some non-Islamic nations to consider it a divisive political statement. In consequence to the resulting friction, some female students have been expelled from universities and jobs, only due to their adherence to this false belief, thereby attaching to Islam a non existent requirement.

So inconsistent and misguided have the proofs of the supporters of the hijab theory been, that it would sometimes take the form of khimar or jalabeeb, which distanced them from what they meant by head cover, which is indicative of their restrictive set of mind.

'Hijab' was mentioned in verse (ayah) 53 of al AHzab, where it signifies 'wall' or 'what prevents view' and it was in regards to pure "ummuhat al mo'mineen" where a "hajib" is to be placed between them and any men.

As for verse (ayah) 31 of Al Khimar - Sourrat al Noor, that is also a redundant claim, as the intent here is the cover of the breast and neck - the background here is the covering of the breast whose exposure is un-Islamic, and not what is now understood by hijab for the head.

And in regards to the historical background of verse (ayah) 59 of Sourrat al AHzab was to distinguish between the pure and the promiscuous whores and slaves.

Finally, in the mis-use of the Hadith about Asma'a, daughter of Abu Bakr, when she walked in on the prophet (pbuh)s gathering, and he ordered her to not expose her face or palms - this Hadith is not a binding Hadith, as it is one of al AHaad and not one of the consistent, or the connected confirmed.

Bacaan lain, dari majalah Rosa El Youssef:
Spoiler for Rosa El Youssef

Sumber : Sate Jawa
Foto : Istimewa