-->

Copyright 2021 © Tanah Impian All Right Reserved


"HEMAT CERDAS, HIDUP BERKUALITAS"

Cara Cerdas Melihat Demo 98 Part 2


Jakarta (
Warta WA Terkini - No Gossip) - Eks KA BIN Hendropriyono mengungkapkan antara lain 3 nama pemain Asing yang ada dibalik Demo 98 Part 2, yakni Taipan Georges Soros, Mantan Direktur CIA Georges Tenet, Taipan David Rockefeller.

Ketiga dalang tersebut, menurut Hendropriyono tidak mengatasnamakan Negara.

Tetapi kita semua tahu, apapun gerakan besar Warga Amerika di luar negeri pasti Under control CIA. Atau dengan kata lain, Agenda CIA.

Disclaimer:
Secara pribadi saya (ikut terjun pada demo98)  tidak setuju adanya demo besar-besaran seperti 98, karena untuk recover-nya pasti dibutuhkan waktu yang lama. (SSM)

Mengapa demo ini pantas kita namakan Demo 98 Part 2, karena Part 1 nya, yang jelas muncul sebagai dalang utama dari Amerika adalah Taipan Georges Soros, yang kutipannya sangat terkenal di kalangan aktivis pada saat itu "Selalu Didepan Grafik", artinya dia bisa mempermainkan Grafik Bursa, sekehendaknya.

Terbukti saat itu, ia buat rupiah jadi anjlok total, yang menyebabkan akselerasi demo semakin membuktikan, bahwa Pemerintah yang kacau penanganannya.

Dan ekonomi menjadi morat marit, harga naik tidak normal.

Soros dan kawan-kawan sepertinya ingin mengulangi kesuksesan kedua.

Pertama
Isu bubarkan DPR sepertinya sangat pas untuk membuat kekacauan, karena bodoh-bodohan saja, honor 1 hari Anggota DPR, sama dengan UMR.
Gimana tidak marah masyarakat secara umum. Sementara kinerja anggota DPR juga tidak membela rakyat secara nyata.


Kedua
Isu ganti Srimulyani, orang bodoh pun tahu kalau Srimulyani adalah menteri keuangan terbaik saat ini. Jadi terlihat jelas bahwa mereka ingin membuat kekacauan di bidang keuangan, seperti 98 Part 1.

Dua isu diatas mengacu pada kecemburuan sosial, yang ingin diakselerasi oleh turunnya nilai rupiah, dengan harapan harga barang-barang menjadi naik secara sporadis.

Belajar dari pengalaman, sesudah reformasi semua pimpinan / Presiden berkonsentrasi pada stabilitas pangan, yang menjadi pemicu utama Demo 98 Part 1, dimana tekanan ekonomi politik sudah menyentuh perut masyarakat. 

Oleh karenanya Ibu-ibu di Pejompongan saat Tragedi Semanggi, juga pantas disebut sebagai Pejuang Reformasi, karena merekalah yang memberi kami makan dan minum gratis saat demo berlangsung di Semanggi.

Empati ibu-ibu tersebut, membuat para pendemo semakin bersemangat.

Sementara empati ibu-ibu tersebut tumbuh karena mereka merasakan susahnya mengatur keuangan dapur mereka, yang semakin jauh dari pendapatan suami mereka.

Ok, diatas secara singkat kita sudah bicarakan mengapa Demo 98 Part 1 berhasil.

Tekanan Ekonomi Politik yang sudah menyentuh perut masyarakat Indonesia saat itu, bahkan di beberapa daerah sudah ada yang menderita kelaparan.

Kondisi Ekonomi Politik di Indonesia saat ini, tidak kacau seperti saat 98, karena hampir semua kebutuhan perut saat ini harganya relatif masih stabil.

Operasi pasar sebagai alat penstabilan harga yang efektif, menjadi lebih sulitnya dalang pendemo untuk menciptakan demo besar, dengan bermain-main dengan perut.

Jadi mereka harus cari isu lain. Ya isu bubarkan DPR menjadi isu yang cantik, saat buruh mendapat UMR pas-pasan. Dipicu DPR yang tidak peka atas aspirasi masyarakat, yang justru terlihat seolah membuli para pemilihnya sendiri.


Yang menimbulkan mayoritas para pemilih cerdas marah.

Ada tindakan verbal yang cerdas, kita dengar dari seorang Salsa Erwina Hutagalung yang menyebut Anggota Dewan Yang Terhormat menjadi "Karyawan Rakyat".

Ya secara esensial lebih tepat disebut sebagai Karyawan Rakyat, karena mereka digaji dari pajak Rakyat.

Dengan predikat "Karyawan Rakyat", semoga mereka menjadi sadar - Yang benar saja lagi dimarahin Majikannya (Rakyat Pembayar Pajak), eh malah joget-joget. 

Kembali lagi ke pembahasan Demo 98 Part 2.

Benar kata Pak Hendropriyono, Kaki Tangan Pihak
Asing Tidak Menyadari Sedang Diperalat Para Dalang Tersebut, sehingga dengan kata lain, para Kaki Tangan tersebut tidak sadar, kalau mereka sedang memainkan peran yang blunder.

Pesan pak Hendro harus dipahami dengan cermat, karena rangkaian kata seorang Profesor Intelijen, tidak sesederhana, seperti rangkaian kata seorang Profesor Doktor disiplin ilmu pada umumnya.

Isu berseri yang berubah-ubah itulah yang tidak dipahami oleh Kaki Tangan Pihak Asing tersebut.

Mulai dari usaha melengserkan Gibran, dan mengganti dengan si Manis.

Mengingat PS sudah 2 kali kalah pada Pemilu Presiden sebelumnya, yang didukung penuh oleh kelompok mereka. Jadi sejarah membuktikan kedekatan hubungan mereka. 

Ditambah PS adalah orang yang tidak pernah lupa dengan Budi Baik orang kepada dirinya. Hal ini terbukti dari dikeluarkannya Amnesti dan Abolisi, demi Balas Budi, yang justru bikin blunder.

Selain itu PS juga mudah melupakan Budi Baik orang kepada dirinya. Contohnya?

Gibran itu, senang atau tidak senang adalah sebagai Goal Getter bagi kemenangan PS 

Dimana seingat saya, tidak pernah sekalipun PS memberikan keterangan / penjelasan bagaimana solidnya mereka berdua - untuk meredam isu pelengseran Gibran yang dimunculkan oleh loyalisnya PS, bahkan melihat isu pelengseran Gibran tersebut, PS seolah tidak acuh sama sekali.

Saat Gibran dihujat, dan juga Jokowi dicemarkan nama baiknya, PS seolah tidak mau tahu persoalan tersebut.

PS lupa daratan, Jokowi ditinggalkannya, dipikir dengan menerbitkan Amnesti dan Abolisi sudah menambah kekuatan bagi dirinya, tapi PS tidak menghitung bahwa di partai yang ia berikan Amnesti dan Abolisi banyak sekali masa mengambang yang mendukung Jokowi, kalau tidak? Darimana PS bisa menang mutlak.

Bahkan Capres dari partai tersebut pun kalah telak, maka jika dihitung secara kuantitas, kemanakah menguapnya anggota dan simpatisan partai tersebut.

Setelah blunder isu pelengseran Gibran, dan isu ijasah palsu (menurut saya yang sengaja diundur-undur, bukan karena ijazahnya yang palsu, tapi untuk memberikan kesan, mereka yang pembenci Gibran dan Jokowi merasa memiliki amunisi yang cukup banyak), lalu isu kembali bergeser ke isu baru "Bubarkan DPR"

Mengapa saya katakan, bahwa pelengseran Wakil Presiden Gibran Rakabuming blunder. Karena menurut saya ini adalah hal yang tidak umum.

Dimana-mana yang dilengserkan Pengambil Keputusannya bukan Pelaksananya.

Dan hari ini 30 Agustus, saya mulai melihat video dari kelompok si Manis yang menganalisis seolah dari awal demo mengarah pada pelengseran PS, yang seolah sudah dirancang oleh termul.

Pertanyaan saya, terminologi termul itu siapa yang meluncurkan, kalau bukan kelompok si Manis / HTI.

Dengan terus bergesernya isu-isu serta bergesernya pimpinan demo  tersebut, mempertontonkan kepada kita, bahwa pola yang dipakai adalah pola gerakan JI.

Melihat isu pelengseran Gibran justru datang dari lingkaran dalam PS sendiri, jadi kemungkinan besar terjadi Political Decay dari dalam kubu PS sendiri yang dimainkan oleh orang-orang HTI (Kaki Tangan Asing) yang menjadi pendukung PS pada 2 Pemilu Presiden sebelumnya.

Inilah yang  dinamakan Senjata Makan Tuan...

Saya rasa artikel ini cukup jelas, apa yang harus ditindak lanjuti selanjutnya.

Agar demo ini tidak berkepanjangan, dan segera mendapatkan solusi yang menyeluruh. (SSM)

wartawaterkini - Warta WA TerkiniNo Gossip

IG : @wartawaterkini
Sumber : Sate Jawa - but no Gossip
Photo : Istimewa
Labels: Artikel Politik, Literasi

Thanks for reading Cara Cerdas Melihat Demo 98 Part 2. Please share...!

Perpustakaan Tanah Impian - KLIK⬇️

Perpustakaan Tanah Impian - KLIK⬇️
Jendela Pengetahuan
Back To Top