Sudah Waktunya Marketplace Diganti Dengan Social Commerce

Jakarta (Warta WA Terkini - No Gossip) - TikTok Shop ditutup tanggal 4 Oktober 2023 jam 17.00. Opini Pro-Kontra langsung bermunculan.

Pertanyaan saya, apa sih hebatnya Social Commerce, dibandingkan dengan Media Social atau Marketplace?

Agar mudah memotretnya, perlu kita analogikan satu persatu.

Media Social dapat dianalogikan, dengan kita berkunjung ke Cafe atau tempat Nongki saja. Kita bisa ngobrol sambil berbagi informasi sesama teman.

Sedangkan Marketplace analoginya persis seperti Mall atau Pusat Perbelanjaan yang kita kenal sekarang ini. Dimana pengunjungnya dapat dikatakan sebagai orang-orang yang ingin berbelanja atau Windows Shopping dlsb. Kalaupun di Mall ada hiburan, sangatlah terbatas, semisal sulap atau perlombaan² resmi yang kaku dan penuh aturan.

Sementara Social Commerce persis Pasar Malam, atau sama seperti dalam kehidupan kita sehari-hari saja. 

Di pasar malam misalnya, kita menemui banyak hiburan dan pedagang membaur jadi satu, sehingga kita terhibur juga, belanja juga. Antara hiburan dan pedagang yang membaur, masing-masing menghibur dengan caranya sendiri. Persis seperti antara content joget-joget, dan pedagang yang sedang Live di TikTok dengan Keranjang Kuningnya.

Di kehidupan sehari-hari, semisal kita datang ke mini market dekat rumah, terkadang kita berjumpa ondel-ondel yang menghibur, atau dangdut keliling, yang intinya menghibur, meskipun tidak terintegrasi dengan mini market yang kita kunjungi.

Sementara TikTok dengan Social Commerce-nya menyuguhkan itu semua, yang mejadikan Dunia Maya lebih persis Dunia Nyata. Makanya langsung booming...

Inilah menurut saya, kedepan setelah Mall-mall, dan banyak Pusat Perbelanjaan yang tutup, saat Dunia Maya menyuguhkan Marketplace - Mall Maya, yang hampir seperti Dunia Nyata.

Dimana saat itu pemerintah menanggapinya lebih logis, atau menganggap sebagai konsekwensi logis, dari adanya perubahan kemajuan zaman dan teknologi, serta perilaku pasar.

Nah, seharusnya Pemerintah juga harus logis melihat kemajuan teknologi Social Commerce, dengan berbagai konsekwensi logisnya pula, yang dapat diperkirakan, saat perubahan itu terjadi lagi. 

Mungkin memang sudah waktunya Marketplace yang tanpa hiburan atau bukan Social Commerce, lambat laun juga akan tutup.

Hal di atas sudah terbukti, dari turunnya omset dari masing-masing Marketplace yang ada, setelah munculnya TikTok sebagai Social Commerce.


Memang dalam applikasi Tik Tok yang ditenggarai dapat dijadikan alat, untuk data polling dari kebiasaan membeli masyarakat Indonesia (copy paste produk), yang kemudian produk-produk laku tersebut di-copy dan dibuat di China, untuk selanjutnya dijual di Indonesia kembali dengan kualitas baik, namun dengan harga sangat murah, yang akan berdampak sangat besar bagi UMKM lokal.

Untuk itu, cukup dibuat aturan dan pengawasan yang ketat, serta membatasi hal-hal, seperti predatory price dlsb, yang kiranya akan mendistorsi perekonomian dalam negeri.
Juga diawasi secara ketat lalu lintas servernya, yang mungkin bisa menkloning data-data untuk dijadikan big data mereka.

Jadi sekali lagi, Social Commerce ini adalah produk, yang sekarang atau nanti pasti akan ada, dan tidak bisa tidak. Seperti kemunculan marketplace pada awalnya, yang meninggalkan pasar tradisional modern seperti mall.

Jadi, bukan teknologi Social Commerce-nya yang dihapus, karena Social Commerce an sich adalah sebuah platform baru yang membuat dunia Maya semakin alami seperti dunia nyata.

Konon katanya, kini banyak juga Social Media yang mulai mengajukan izin Social Commerce.

Shopee dari kaca mata saya sebenarnya juga sudah menjadi Social Commerce sejak ada live streaming-nya.


Hanya saja, kalau Shopee dianalogikan sebagai mall dunia nyata, persis seperti mall dengan bangunan gedung yang tengahnya kosong. Sehingga di lantai bawah bisa dibuat pameran, atau dalam kaitannya dengan Shopee, di lantai bawahlah tempatnya live streaming-nya. Atau secara kasat mata, toko dan tempat hiburannya terpisah.

Sementara kalau Tik Tok, persis pasar malam, pedagang dan tempat hiduran membaur jadi satu, tanpa ada pembatasnya.

Terimakasih TikTok, engkau membuat "Dunia Maya rasa Dunia Nyata". (Kiki Saputra)

wartawaterkini - Warta WA Terkini - No Gossip

IG : @wartawaterkini
Sumber : Sate Jawa - but no Gossip
Foto : Istimewa

Share:

Translate

Pola Pikir

Wanita Cantik di Mata Pria - Beautiful Woman in Men's Eyes

Definisi rupawan di Nusantara: Cakep, Ayu, Cantik, dan Manis Jakarta ( WWT ) - Articles in English, after Articles in Indonesian Kami ingin ...

Arsip Blog