Home » » 3 Disrupsi pada Bulan Mei 2021

3 Disrupsi pada Bulan Mei 2021

Cara Baru - Cara Lama
Jakarta  (WWT) - Mei 2021 ada 3 peristiwa yang sangat menyedihkan bagi ekonomi dan bagi karyawan terdampak.

  1. Bank BNI 46 akan menutup 96 kantor cabangnya tahun ini.
  2. Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air menawarkan pensiun dini kepada karyawannya. Garuda bahkan akan memangkas separuh armadanya. 
  3. Swalayan raksasa Giant sudah tak kuat lagi berhadapan dengan persaingan pasar ritel. Slogan "Harga murah setiap hari" akan jadi kenangan karena Hero Group akan menutup seluruh Giant pada akhir Juli 2021.

Mengapa?

3 tahun terakhir pasar domestik kita, mau tidak mau, suka tidak suka, harus menghadapi 3 disrupsi sekaligus:

“Disrupsi DIGITAL + Disrupsi MILLENNIAL + Disrupsi PANDEMI.”

Dampaknya perusahaan-perusahaan ber-ASET FISIK BESAR + beban OVERHEAD BESAR akan berat terhimpit kerugian yang sulit dibayangkan saat pendapatan menurun drastis tertekan pandemi.

Airlines harus membayar biaya leasing pesawat + biaya overhead karyawan operasional + operasional pesawat yang sangat tinggi.

Bank harus membiayai biaya operasi kantor-kantor cabang + jumlah pegawai yang besar.

Toko ritel dibebani biaya kepemilikan atau properti yang mahal + biaya karyawan + biaya angsuran dan bunga pinjaman bank.

Sedangkan Platform Company seperti Air BnB, Red Doorz tidak perlu punya aset properti dan karyawan seperti hotel konvensional. Gojek, Grab tidak perlu punya aset kendaraan dan membayar gaji bulanan pengemudinya; tidak demikian halnya dengan taksi konvensional. Layanan bank berbasis teknologi digital seperti Jenius, Bank Jago tidak perlu punya kantor cabang dan karyawan untuk melayani nasabah. Tokopedia, Traveloka tidak perlu punya aset properti dan karyawan dalam jumlah besar.

Mereka sudah siap melawan 3 disrupsi yang terjadi. Begitu juga UMKM dan perusahaan ber-ASET KECIL lainnya. Saya mengira UMKM akan bakal lebih cepat rebound dan lebih lincah saat bermanuver menghadapi 3 disrupsi ini.

Contohnya, di masa pandemi bisnis hotel nyaris mati. Karena itu banyak hotel kecil dan hotel lokal yang merubah model bisnisnya menjadi motel dengan sewa short time per 3-6 jam dan banyak yang menambah fasilitas resto, coffee shop dan cafe di roof-top misalnya.

Sebuah chinese resto ternama di Jakarta Barat yang dipaksa mengurangi 50% jumlah meja dan kursinya karena phisical distancing, menambah bisnis modelnya menjadi “makan di mobil” dengan investasi membuat meja dari platform kayu yang bisa digantung di belakang jok dan peralatan makan sekali pakai.

Sudah banyak branded resto yang menambah bisnis modelnya menjadi “speedy take-away” dengan memasang konter-konter fleksibel di jalan strategis menawarkan masakan/ makanan dengan harga bundling yang sangat menarik. Misalnya, 100 ribu dapat 4 macam personal pan pizza.

Fleksibilitas seperti ini sangat sulit didapatkan perusahaan besar dengan overhead yang besar.

3 disrupsi ini akan terus memakan korban dan yang akan makin sering kita dengar beritanya beberapa bulan ke depan adalah tumbangnya prusahaan-perusahaan yang punya aset fisik besar + overhead yang gede.

INSPIRASI

Menghadapi 3 disrupsi sekaligus seperti ini, untuk bisa tetap profitable, para pengusaha dan marketer perlu merubah strategi atau menambah model bisnisnya.

Misalnya strategi SHOWROOMING & WEBROOMING yang akan saya jelaskan pada kesempatan berikutnya.

MW


Sumber : Sate Jawa
Foto : Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Warta WA Terkini - Latest WA News

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Warta WA Terkini

Entri Populer

Warta Whatsapp Terkini
Saluran Langsung Suara Hati Rakyat

Sumber : Sate Jawa
(Salin Tempel dari Jaringan Whatsapp)