Home » , » Cuci Otak Masal, Pudarnya Toleransi, dan Warganegara Kelas Dua

Cuci Otak Masal, Pudarnya Toleransi, dan Warganegara Kelas Dua

Sebuah pesan WhatsApp dari seorang sahabat non-Muslim membuat saya terperangah: “Temanku yang baik, maaf saya keluar dari grup karena sudah terlalu sering membaca pernyataan teman-teman yang menyakiti hati.

Jika teman-teman non-Muslim terus dianggap sebagai orang kafir di negara ini, berarti kami ini adalah warganegara kelas dua (atau ke sekian) yang dianggap tidak punya hak sama.
Ditambah lagi, jika teman-teman Muslim yang berbeda pendapat juga dianggap kafir, maka posisi mereka juga sama dengan kami yang non-Muslim. Kita kembali ke jaman perbudakan di Amerika, pada saat orang hitam dianggap warganegara kelas dua. Kita kembali ke jaman Hitler, pada saat orang Yahudi dianggap sebagai bangsa yang perlu dimusnahkan dari dunia. Dengan segala respek kepada teman-teman yang masih ingin bersilaturahmi, saya mundur dulu dari grup untuk menjauhkan diri dari enersi negatif, supaya saya bisa tetap berkarya untuk negeri ini. Saya berharap setelah Pilkada DKI kelar, grup kita bisa menjadi media silaturahmi yang baik lagi.”

Jemari saya terpaku di atas ponsel. Bukan sekali atau dua kali ini terjadi, tetapi selalu membuat hati ini tercabik perih. Fenomena perpecahan seperti ini tak hanya terjadi di seputar Pilkada DKI, tetapi telah merebak ke segenap penjuru Indonesia sejak Pemilihan Presiden RI tahun 2014. Sel-sel militan Islam ektremis yang telah ditanamkan berpuluh-puluh tahun sejak jatuhnya Orde Baru di seluruh lapisan masyarakat, saat itu seperti dibangunkan, dipolitisasi dan dimobilisasi secara masal dengan menghalalkan segala cara. Tujuannya untuk meraih kekuatan puncak yang bisa mengubah dasar negara Indonesia.

Dengan menaiki kendaraan demokrasi yang akhirnya ingin digulingkan, didukung oleh teknologi media sosial yang efektif, para militan Islam garis keras membentuk cyber-troops yang menyebarkan berbagai kampanye hitam, berita bohong, dan bahkan fitnah. Meski akhirnya Joko Widodo (Jokowi) berhasil terpilih sebagai presiden, namun getaran perpecahan yang kuat antara Islam moderat dan garis keras, ternyata tidak berakhir.

“Semua kejadian ini mengerikan dan mengejutkan, tetapi juga merupakan blessing-in-disguise, “ ujar seorang teman lain di suatu kesempatan. “Kejadian ini membuka mata kita dan menyadarkan kita. Ternyata peta kekuatan Islam radikal di Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Kita semua terbangun. Selama ini kita terbuai dengan eufimisme toleransi. Namun sebenarnya Indonesia berada di persimpangan jalan yang membahayakan.”

Terus terang, saya tidak terkejut. Di tahun 1980-an, saat menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri di Indonesia, saya telah mengalami apa yang disebut mental programming atau cuci otak yang terstruktur dan masif, untuk memasukkan nilai-nilai religius ektremis ke kepala saya. Saya mengerti, pengajaran radikal yang dimasukkan melalui ancaman dan fear (rasa takut) sangat efektif, terutama bagi masyarakat Indonesia yang komunal, yang sangat tergantung pada kelompoknya, dan selalu patuh pada mereka yang “dituakan” atau dianggap “suci” di kelompoknya. Secara umum, masyarakat Indonesia yang tingkat komunalitasnya tinggi, mudah dipolitisasi, dimobilisasi, atau bahkan dimanipulasi secara masal, dengan menggunakan trik-trik perintah agama.

Muhammadiyah dan NU, dua kekuatan besar aliran Islam yang dianggap tradisional dan moderat di republik ini, juga tidak terkejut. Sejak jauh-jauh hari para pimpinan Muhammadiyah dan NU, tak lelah-lelahnya mengingatkan akan tumbuhnya gejala radikalisme di Indonesia. Mereka tahu, cuci otak telah dilakukan dan sedang terus dilakukan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi-perguruan tinggi, dan di berbagai kelompok masyarakat di tanah air. Masa atau sel-sel yang dipelihara ini digunakan oleh berbagai pihak yang berkepentingan untuk merebut kekuasaan, membuka pintu korupsi, bahkan juga digunakan oleh pihak-pihak asing yang ingin memanfaatkan Indonesia sebagai panggung mereka.

Jadi kita memang sedang berada di satu titik sejarah yang kritis. Kita sedang diuji. Apakah kita akan berhasil lulus ujian dan menjadi bangsa yang kuat mumpuni di dunia? Atau apakah kita akan mundur menuju masyarakat primitif dan kehancuran? Saya tidak tahu. Kepada sahabat yang merasa dijadikan warganegara kelas dua itu, saya membalas dengan gamang: “Kita harus fokus pada hal-hal positif. Jangan biarkan ‘teror’ ini menggerogoti pikiran kita. What we focus, expands. Have faith in humanity.”

Sumber : http://gonjreng.com/cuci-otak-masal-pudarnya-toleransi-dan-warganegara-kelas-dua/
Foto : Istimewa

Thanks for reading & sharing Warta WA Terkini - Latest WhatsApp News

Previous
« Prev Post

Warta WA Terkini

Populer