Selasa, 12 September 2017

BOROBUDUR (INDONESIA) DAN BUDDHA BAMIYAN (AFGHANISTAN)

"Dulu jaman Pak Harto gereja aman dan gak perlu dijaga Banser. Patung gak perlu ditutup kain putih. Teroris gak berani macam-macam. Termasuk juga Borobudur yang gak pernah didemo. Piye.., isih penak jaman Pak Harto toh cak?" tanya seorang teman sambil menikmati gurihnya rengginang.

Kaget juga mendengar pertanyaan "mak jleb" sekaligus hambar itu. Rengginang yang awalnya gurih, langsung terasa hambar. Sehambar pertanyaan dan pernyataannya itu. Akhirnya, melalui Saluran Internasional Langsung Ilmu Telepati (SILIT), sayapun mencoba "berdialog imajiner" dengan Samuel P Huntington (alm) si pencetus CoC (Clash of Civilization). Saya meyakini apa yang terjadi di Indonesia dan berbagai belahan bumi lain ada hubungannya dengan teori "Perbenturan Peradaban" ini.
Saya: S dan Huntington: H

S: Piye mbah? Isih penak mana jaman Pak Harto, apa jaman sekarang yang katanya ribut melulu?

H: Gini lho le.., 30 tahun kalian menjadi mitra strategis (baca:sapi perah) dari Amerika. Mulai dari Freeport hingga tambang minyak dan lain-lain yang seolah menjadi upeti buat mereka. Sebagai kompensasinya, negara kalian menjadi "stabil". Bahkan kemudian menjadi salah satu negara terkuat di Asia Tenggara, namun keropos didalamnya. Bagaimana tidak keropos? Lha SDA nya yang mengeruk mereka? Moneter kalian juga dalam kendali mereka.
Sampai kemudian pada tahun 1996 saya mencetuskan teori CoC. Teori inilah yang kemudian dijadikan rujukan atau landasan dari kebijakan geopolitik AS. Dimana salah satu poin dalam teori tersebut dinyatakan bahwa pasca berakhirnya perang dingin yang ditandai dengan runtuhnya komunis (Uni Soviet), maka kelak yang akan menjadi tandingan peradaban Barat adalah peradaban Asia dan Islam. Dan tesis ini sepertinya berdampak merubah perspektif dan perlakuan Barat terhadap Islam. Tak terkecuali terhadap Indonesia sebagai pemeluk Agama Islam terbesar di dunia.

S: Jelasnya piye mbah?

H: Jadi akhirnya Langley (markas CIA) membuat "formula" bagaimana caranya masyarakat dunia menjadi alergi terhadap Islam sebagaimana sebelumnya terhadap komunis. Dirancanglah Islam yang ngamukan, haus darah, pikiran sempit, mudah mengkafir-karirkan, membid'ah-bid'ahkan, bahkan bagaimana Islam itu dipersepsi (maaf) ngacengan. Intinya menjadi antitesa (berlawanan) dengan Islam Rahmatan lil 'Alamin yang cinta damai dan menghargai keberagaman.  Yang mana ndilalah Islam toleran ini banyak dianut muslim di negaramu serta berpotensi menjadi peradaban Islam yang maju. Yaitu Islam yang mampu bersinergi dengan perkembangan jaman.

S: Terus mbah?

H:  Di mulailah dari kelinci percobaan AS di Afghanistan. Mujahidin adalah kelompok pejuang yang didukung AS untuk melawan pendudukan Soviet. Justru setelah kemenangan Mujahidin, AS mendukung pemberontak dari kelompok muda Taliban (pelajar) yang memperjuangkan syariat Islam di Afghanistan. Tak segan mereka (Taliban) menthogut-thogutkan pemerintahan dan pendahulunya. Setelah perang saudara dan akhirnya mereka berhasil duduk di Pemerintahan, wajah Islam dibuat sedemikian menyeramkan dan menakutkan. Dengan dalil memurnikan Islam, budaya, akar sejarah dan keberagaman di Afghanistan mulai dihilangkan. Contohnya penghancuran patung Buddha terbesar didunia yang ada di Afghanistan. Yaitu Patung Buddha Bamiyan.
Setelah sukses dengan "proyek" Taliban, dilanjutkan dengan "proyek" ISIS yang mengklaim Islamnya lebih murni dan universal. Proyek ini sekaligus untuk memerangi Taliban yang mulai tak dapat dikendalikan "tuan"nya. Skenario-skenario ini berhasil menciptakan perang saudara sesama "Islam". Dengan begitu wajah Islam tampak  mengerikan dan penuh dengan kekerasan. Nah, model ISIS yang "universal" inilah yang kemudian bisa diadopsi dan diterapkan diberbagai belahan bumi. Karena doktrin mereka tidak mengenal batas negara dan hanya mengacu pada satu Khilafah Islamiyah. Ideologi ini juga bermetamorfosa menjadi bermacam-macam bentuk dan sayap organisasi radikal diberbagai negara.

S: Apakah termasuk di Indonesia mbah?

H: Cukup kalian rasakan saja. Apakah diantara kalian kini banyak muncul ustadz-ustadz muda yang mudah menthogutkan dan tidak menghargai para pendahulunya? Politik identitas, isu kafir, tudingan ahli bid'ah dan intoleransi semakin menguat? Jika ya, itu adalah salah satu gejalanya sebagaimana yang pernah terjadi di Afghan, Irak dan Suriah. Ditambah lagi kini negaramu mencoba mandiri dan melepaskan diri dari hegemoni AS. Pasti eskalasinya akan semakin tinggi. Jadi semua ini bukan karena "Penak Jaman Soeharto" le.. Melainkan karena kebijakan geopolitik yang dilandasi oleh teori "Perbenturan Peradaban". Konyolnya, disini para "kelinci percobaan" merasa berjuang atas nama Tuhan dan berjihad melawan komunis yang sudah "mati". Le..? Mau Indonesia jadi seperti Afghanistan?!

*FAZ*
#imajiner

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=437411233319410&id=100011516113440

Sumber : Sate Jawa
Foto : Istimewa