Home » , , » Maukah Bangsa Kita Dibunuh Seperti Binatang?

Maukah Bangsa Kita Dibunuh Seperti Binatang?

Radikal Islam Menguat, ISIP Lahir Pasca ISIS Gagal di Timur Tengah? 
BY NINOY KARUNDENG ON MAY 31, 2017
POLITIK
Pentolan Sesembahan Pengikut ISIS
Radikal Islam menggerogoti Pancasila dan NKRI. Tak bisa dipungkiri.
Nyata. Tanpa eufemisme! Lalu apakah ISIP itu? Sebelum membahasnya, mari kita jawab beberapa pertanyaan berikut ini. Akankah kita membiarkan Islam radikal berkuasa di Indonesia? Apakah kita akan membiarkan Rizieq FPI mengangkangi hukum dengan massanya? Akankah kita akan menyaksikan pembunuhankeji terhadap rakyat Indonesia? Akankah kita mengalami tragedi seperti di Syria dan Iraq dan Mesir dan Libya? Akankah kita membiarkan anak bangsa dibunuh secara kejam seperti di Marawi?
Akankah kita membiarkan ribuan gereja, kuil, candi, pura dan masjid NU dibakar oleh ISIP seperti di Mesir, Iraq, dan Syria? Akankah kita membiarkan penganut Islam moderat, Islam Nusantara dibunuhi? Juga minoritas agama Kristen, Katolik, Hindu,Buddha, Ahmadiyah, Syiah, dan Konghucu serta para penganut agama tradisional dan kepercayaan dibunuhi oleh ISIP seperti di Libya, Iraq, Syria, Afghanistan, Pakistan, dan Mesir?
Gambaran radikalisme yang merebak, dengan dibumbui oleh peran para teroris yang sebagian orang justru mendukung terorisme, membuat gambaran kelam itu nyata mengancam di depan mata, seperti peringatan Kepala BIN Budi Gunawan.
Lalu apakah ISIP? ISIP adalah singkatan Islamic State in Indonesia and the Philippines, alias Negara Islam di Indonesia dan Filipina.
Peringatan kepala BIN Budi Gunawan tentang Indonesia dan Filipina dijadikan target oleh (eks) anggota ISIS sebagai Syria dan Iraq kedua bukanlah tanpa alasan.
Kegagalan kelompok Islam radikal berideologi khilafah ISIS di Iraq dan Syria, membuat teroris itu mengalihkan sasaran. Salah satunya, yang paling potensial adalah Indonesia.
Keberadaan para pendukung ISIS di Indonesia menjadi pendorong kuat.
Namun, yang lebih memberi angin adalah sikap Indonesia yang membiarkan ideologi negara Pancasila digerogoti oleh kelompok Islam radikal berpaham khilafah.
Kenapa Indonesia – dan Filipina – menjadi  target pembentukan negera Islam model ISIS bernama Islamic State in Indonesia and the Philippines (ISIP)secara internasional?
Ada empat alasan yakni geopolitik, geografis, geostrategis, dan ideologis baik secara internasional maupun lokal.
Pasca kekalahan di Timur Tengah dan Afrika Utara, ISIS memilih beberapa negara untuk dijadikan ‘rumah’ mereka di Afrika Barat, Asia Tengah, Russia, Asia Selatan dan Tenggara. Russia bertindak tegas dan menyasar ISIS langsung di Syria.
Mali, Niger, dan Nigeria dijadikan sasaran setelah kegagalan di Libya dan Mesir.  Namun di negara-negara seperti Mali dan Nigeria, pasukan Eropa membentengi. Selain Afrika Barat dan Tengah, Afrika Timur seperti Ethiopia, Sudan, dan Kenya juga menjadi alternatif. Namun, dari sisi geostrategis dan ideologis kurang berkembang.
Tak ada pilihan, maka ISIS berpaling ke Asia Tengah, Selatan dan Tenggara. Kini ISIS telah kembali ke Afghanistan dan Pakistan. (Presiden Trump pekan lalu meminta para anggota NATO untuk meningkatkan kembali kekuatan tentara di Afghanistan karena kebangkitan ISIS yang bersekutu dengan Taliban.)
Afghanistan, Bangladesh dan Pakistan memang memiliki kecocokan masyarakat untuk tumbuhnya radikalisme seperti Taliban dan ISIS. Namun pemerintah Pakistan bertindak secara militer meskipun setengah-setengah. Bangladesh adalah salah satu negara paling rentan karena pembiaran radikalisme Islam yang telah masuk ke dalam semua sendi negara – mirip dengan Indonesia. Ketiga negara itu, Pakistan, Afghanistan dan Bangladesh berpotensi besar menjadi ‘rumah’ ISIS di Asia Selatan.
Selain negara-negara tersebut, Thailand Selatan menjadi alternatif karena sentimen anti-Bangkok semakin membesar.
Hal ini ditambah lagi dengan adanya kontak dan bantuan pendidikan teroris oleh teroris dari Malaysia, Indonesia, dan Filipina lewat jaringan Jamaah Islamiyah Asia Tenggara.
Sel-sel mereka tetap hidup sampai sekarang.
Negara-negara sasaran pilihan lain, tentu Filipina dan Indonesia.
Khusus Filipina sentimen anti Katolik dibangun di Filipina dengan MILF, Abu Sayyaf, Maute, MNLF,dan berbagai gerombolan teroris lainnya.
Maka Filipina menjadi tujuan jangka pendek perpindahan gerakan anggota ISIS dari Iraq –setelah kekalahan di Mosul dan di  Syria.
Sementara di Indonesia sentimen SARA – yang dimanfaatkan oleh politikus semprul bin mantan dan Islam radikal – menjadi sasaran empuk tumbuhnya Islam radikal.
Simpatisan ISIS yang sudah merasuki seluruh lembaga negara, pejabat publik seperti gubernur, bupati, mantan menteri yang bersimpati dengan ormas berpaham khilafah HTI, menjadi pintu masuk empuk ISIS bergerak di Indonesia.
Alasan lain, gerakan Islam radikal dengan sel-sel seperti Jamaah Islamiyah, kelompok Imron bin Muhammad Zein, Jamaah Anshorut Tauhid, dan berbagai kelompok Islam radikal berkembang pesat.
Belum lagi infiltrasi gerakan Islam radikal seperti HTI ke dalam lembaga negara begitu masif.
Pun di dalam struktur politik, gerakan Islam radikal pun telah mencengkeram.
Hal ini terjadi karena pengaderan dan perekrutan anggota gerakan Islam radikal yang taktis dan strategis.
Gerakan indoktrinasi under-ground dan kegiatan rohis di sekolah menengah dan UKM kampus selama 30 tahun btelah menghasilkan generasi emas kaum radikal yang terpelajar.
Matang.
Jika 30 tahun lalu, logistik mereka belum kuat, kini mereka telah matang memasuki dunia kerja di semua struktur pemerintahan dan swasta.
Kaum radikal ini menyusupi kalangan politik, dan mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.
ISIS bekerjasama dengan politikus korup Erdogan dan keluarganya yang membeli minyak murah  ISIS dari lading minyak di Iraq dan Syria.
Sedang di Indonesia kalangan Islam radikal dan teroris bekerjasama dengan bandar narkoba seperti Freddy Budiman dan juga para koruptor untuk menguatkan gerakan.
Mereka masuk ke dalam struktur kekuasaan, seperti kehakiman dan bahkan disinyalir militer.
Penyusupan yang paling kentara dan membahayakan dikhawatirkan terjadi di DPR.
Ada upaya menghambat RUU anti teroris untuk disahkan.
Hal ini dilakukan karena ketegasan UU anti terorisme dianggap akan menghalangi cita-cita mereka dalam mendukung ISIS.
Tak kurang manusia seperti Hidayat Nur Wahid pun mengusulkan pemberangusan teroris dengan menggunakan peluru karet.
Usulan manusia keblinger karena teroris menggunakan bom.
Indonesia dan Filipina pada akhirnya menjadi pilihan terbaik jika dihubungkan dengan letak geografis Indonesia.
Juga Filipina dan Indonesia secara bersama memiliki 25,000 pulau yang rawan untuk dijadikan markas ISIS. Akses laut ke mana pun, dengan penjagaan TNI AL dan AL Filipina yang longgar memberi ruang gerak bebas bagi teroris. Hal ini cocok untuk para teroris.
Keberhasilan ISIS bergerilya di pulau-pulau di Filipina seperti Jolo, dan belantara Indonesia dan Filipina, juga Thailand Selatan  yang mirip Vietnam, menjadi nilai plus.
Maka menjadi beralasan ISIS mengalihkan arah kiblat gerakan dari Timur Tengah dan Afrika ke Afghanistan, Pakistan, Bangladesh dan Asia Tenggara.
Maka basis Negara Islam incaran nomor satu adalah Indonesia dan Filipina, atau mendirikan Islamic State in Indonesia and the Phillipines (ISIP).
Alasan lain tentang ISIS telah bergerak ke Asia Tenggara adalah bahwa Amerika Serikat, Australia,dan Eropa tidak akan peduli  karena tidak memiliki kepentingan dengan posisi strategis Indonesia dan Filipina.
Apalagi Filipina dan Indonesia yang dianggap oleh Barat lebih dekat dengan Russia dan China.
Indonesia dan Filipina yang berpenduduk besar tidak dianggap penting bagi geopolitik dan geostrategis Amerika Serikat.
(Hal ini berbeda dengan Timur Tengah. Persaingan kekuatan politik dan ekonomi, cq. energi, Arab Saudi-Iran-Israel yang selalu dimainkan untuk perlombaan senjata. Arab Saudi baru saja menandatangani perjanjian pembelian senjata senilai US $ 110 miliar dan dalam jangka panjang mencapai US$ 340 miliar.
Pun AS dan Barat memerangi ISIS adalah strategi memelihara Israel.)
Khusus untuk Indonesia, dari sisi politik, dukungan logistik, sel-sel tidur Islam radikal seperti NII, HTI, gerakan Jamaah Islamiyah, Anshorut Tauhid, ditambah dengan simpatisan dan radikalisme Islam di kalangan masyarakat, pemuda, ibu-ibu, dan mahasiswa serta generasi emas, maka eks ISIS akan bercokol dan membangun negara Islam di Indonesia dan Filipina dengan nama ISIP alias Islamic State in Indonesia and the Philippines.
Maka sangat beralasan peringatan Kepala BIN Budi Gunawan tersebut dan Pemerintah dan rakyat Indonesia harus cepat dan tegas bergerak mengatasi radikalisme secepatnya. ISIS dan simpatisan serta pendukung Islam radikal Indonesia terus merangsek.
Mereka melakukan tindakan teror dan intoleransi yang terus dibiarkan dan  bertumbuh menjadi mesin pembunuh.
Bahkan ajakan membunuh muncul dalam video dilakukan dalam pawai yang diikuti oleh anak-anak Indonesia berideologi ISIS alias khilafah.
Maka satu pertanyaan di paragraph awal patut dijadikan renungan mendalam.
Akankah kita membiarkan para penganut Islam Nusantara yang moderat dan para minoritas pengikut agama Kristen, Katolik, Hindu,Buddha, dan Konghucu serta agama tradisional dan kepercayaan dibunuhi oleh ISIP seperti di Libya, Iraq, Syria, Afghanistan, Pakistan, dan Mesir?
*Kini saatnya semua elemen bangsa tanpa memandang suku, agama, golongan, ras, dan pilihan politik melawan terorisme dan Islam radikal yang tidak sesuai dengan dasar Pancasila dan NKRI alias Negara Kesatuan Republik Indonesia.*
*Sebar luaskan berita ini ke seluruh pelosok Negeri Indonesia. Anda tidak akan ditangkap. Justru dengan Anda menyebar luas berita ini, berarti Anda turut serta ikut menjaga dan membela NKRI, PANCASILA dan BHINNEKA TUNGGAL IKA.*
*Cara paling mudah untuk mendeteksi kerabat kita termasuk dalam golongan faham dan simpatisan teroris atau golongan faham dan simpatisan radikal , yaitu setelah membaca ulasan ini, dia akan menentang, memprotes, emosi, menyanggah dengan berujar "ah, itu urusan Pemerintah, itu urusan Polisi dan TNI, kita urusi kerjaan kita saja, dan jangan diposting di group WA", atau dengan berbagai macam opininya, dengan tujuan melemahkan dan meremehkan ulasan tersebut diatas. Mari kita cermati dan waspada
[truncated by WhatsApp]

Thanks for reading & sharing Warta WA Terkini - Latest WhatsApp News

Previous
« Prev Post

Warta WA Terkini

Populer