Kamis, 02 Maret 2017

Kesaksian Pelacur Kalijodo - Awalnya Benci, Akhirnya Salut

Brengsek ini orang! Penghasilan besar gue dan temen-temen gue hilang dalam sekejap. Gue gak nyangka dia punya nyali ngegusur wilayah kekuasaan bos-bos perkasa puluhan tahun. 

Gue lebih percaya pada kekuatan centeng-centeng daerah sini dibandingkan mulut besar dia. Selama ini orang-orang ngomong gede kalau mereka mau berantas kami tapi  gak ada yang berani. 

Ya tapi, gue dan teman-teman salah! Dia buktiin niat dia. Gue dan teman-teman benci mampus sama dia, apalagi bos-bos kami dan orang yang menikmati duit yang kami hasilkan.

Bajingan! Dia paksa hidup orang-orang di sini berubah. Gue gak punya keahlian apa-apa  selain  merayu laki-laki hidung belang. Temen-temen gue kabur, gak  berdaya melawan penggusuran. Gue nangis, gimana gue bisa hidup besok? Sakit rasanya dipaksa berubah tapi dia berkuasa, gak bisa dilawan, dia ngikutin aturan. Gue yang salah.

Iya, gue mantan pelacur, dipaksa ‘tobat’ sama Ahok. Laki-laki yang datang ke sini gak ada yang berani nolong. Ahok  bukan ulama yang kasih-kasih ayat. Selama ini bukannya gak ada ulama yang berusaha bikin gue dan temen-temen tobat tapi siraman rohani cuma bikin gue nangisin dosa  1 jam,  setelah itu, ya udah.

Agama gak bisa ngasih gue makan. Lagian kenapa gue aja yang hina? Gue kerja begini karena ada permintaan. Banyak laki-laki yang datang ke sini, jangan-jangan gubernur itu konspirasi dengan ibu-ibu supaya Kalijodo dan tempat  maksiat lain digusur. Teman-teman gue masih banyak yang  gak mau tobat. Mereka cari tempat lain. Di mana? Rahasialah, ya…Gue takut ibu-ibu konspirasi dengan Ahok lagi ngancurin tempat itu.

Kenapa gue terpaksa tobat?
Gue datang ke tempat kerja gue dulu, ya  Kalijodo ini. Laki-laki itu bangun taman indah dengan berbagai  fasilitas. Ternyata bukan mal atau apalah, seperti gosip yang gue denger. Gue berbaur dengan orang ‘baik-baik’, dari mulai bayi sampai kakek-nenek. Gak ada yang ngenalin gue. Gue jadi merasa sama terhormatnya dengan pengunjung lain. Hari itu gue bawa bayi gue, yang tanpa bapak itu, dan keponakan-keponakan. Mereka girang main  dengan  teman-teman seumuran mereka.
Di tanah itu gak ada bekas sedikitpun dari gambaran kotor masa lalu. Nggak ada rasa jijik di muka orang-orang yang datang. Semua tersenyum dan saling tegur. Ada yang layanin pemeriksaan jantung, tensi, kolestrol, gratis. Ada kumpulan ibu-ibu yang latihan poco-poco. Gue gak  tahu  di sebelah mana tempat gue dulu kerja.

Hidup gue tenang, gak lagi dihantui kutukan ibu-ibu yang suami-suaminya make gue. Gue menangis terharu membayangkan bayi dan keponakan-keponakan gue bakal tumbuh sehat dan bahagia. Gue gak mau mengeluh lagi. Gue sudah mulai cari usaha kecil-kecilan untuk ngelanjutin hidup. Bayi gue lahir tanpa bapak tapi gue lihat Ahok bisa jadi bapak untuk anak-anak dari orang kurang beruntung kayak anak gue. Paling nggak, gue dan anak gue kalo sakit  ditanggung pemerintah.

Gue sekarang punya harapan. Gue akan jadi ibu yang baik. Gue sudah bilang  ke anak gue sambil gue cium pipinya yang basah dengan air mata gue, “Kamu bisa jadi apa saja yang kamu mau, Nak.” Gue yakin dengan hal itu…

…karena Jakarta sudah bukan lagi kota yang jahat buat kami.
(dari percakapan ‘Sari’ dengan Muna Panggabean)

Sumber : SaTe JaWa
Foto : Istimewa